Gerakan Cegah Stunting 2026 di kantor Wali Kota Singkawang, Rabu (20/5/2026). Foto : Prokopim

Singkawang, MC – Pemerintah Kota Singkawang melalui Dinas Kesehatan dan KB Kota Singkawang menggelar Gerakan Cegah Stunting Tahun 2026 di Basement Kantor Wali Kota Singkawang, Rabu (20/5/2026). Kegiatan yang dikemas dalam bentuk talkshow dan pemeriksaan kesehatan balita tersebut diikuti ratusan ibu dan balita dengan antusias.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie. Dalam sambutannya, ia mengatakan upaya pencegahan stunting merupakan bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas.

“Pencegahan stunting menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Singkawang, karena ini merupakan langkah strategis dalam membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas demi menyongsong masa depan bangsa,” kataTjhai Chui Mie.

Menurutnya, stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berpotensi menghambat perkembangan otak dan kecerdasan anak apabila tidak ditangani sejak dini.

“Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan otak dan kualitas generasi penerus kita. Karena itu, edukasi kepada masyarakat, khususnya para orang tua, harus terus diperkuat,” ujarnya.

Ia menyampaikan, terdapat empat pilar utama dalam upaya percepatan pencegahan stunting, yakni validasi data lapangan, intervensi gizi spesifik dan tepat sasaran, sinergi lintas sektor, serta penguatan edukasi kepada masyarakat.

“Kita harus memastikan data lapangan valid, program gizi berjalan tepat sasaran, kolaborasi lintas sektor semakin kuat, dan yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran orang tua terhadap tumbuh kembang anak,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan dan KB Kota Singkawang, dr. Achmad Hardin, mengungkapkan bahwa cakupan pengukuran balita di Kota Singkawang masih perlu ditingkatkan. Hingga Maret 2026, persentase balita yang telah ditimbang baru mencapai 39,99 persen dari total data balita yang tercatat dalam aplikasi e-PPGBM.

“Cakupan pengukuran balita hingga Maret 2026 masih berada di angka 39,99 persen. Ini menjadi perhatian bersama agar layanan pemantauan tumbuh kembang anak dapat lebih optimal,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pihaknya terus mengoptimalkan peran 173 Posyandu yang tersebar di 26 kelurahan dalam memberikan layanan kesehatan kepada 14.843 balita yang terdata di Kota Singkawang.

Selain itu, pemanfaatan media sosial juga terus didorong sebagai sarana publikasi jadwal Posyandu sekaligus media edukasi bagi para orang tua terkait pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak.

“Kader Posyandu diharapkan semakin aktif mengedukasi masyarakat, baik secara langsung maupun melalui media sosial, sehingga kesadaran orang tua terhadap pentingnya pencegahan stunting semakin meningkat,” ujarnya. (Gun)

Humas Singkawang