Singkawang, MC – Pemerintah Kota Singkawang terus memperkuat komitmen dalam menghadirkan pendidikan inklusif yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus. Upaya tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Guru dalam Penanganan Anak Istimewa yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang di UPTD Layanan Disabilitas dan Pendidikan Transisi (LDPT), Selasa (19/5/2026).

Sebanyak 107 guru dari jenjang TK hingga SMP mengikuti kegiatan tersebut untuk memperdalam pemahaman terkait strategi pembelajaran inklusif dan pendekatan psikologis dalam menangani anak istimewa di sekolah reguler.

Kegiatan menghadirkan Konselor Ortopedagog Rumah Konseling dan Rumah Belajar Pengharapan Indonesia, EV Lidanial, sebagai narasumber.

Kepala UPTD LDPT Kota Singkawang, Eka Meiyanti mengatakan, pemahaman terhadap karakteristik anak berkebutuhan khusus menjadi hal penting sebelum guru menerapkan strategi pembelajaran maupun pendekatan psikologis di sekolah.

“Sebenarnya, para guru itu harus tau terlebih dahulu karakteristik anak-anak istimewa ini, jika mereka sudah tau dan memahami mereka, saya rasa strategi dalam menangani mereka melalui pendekatan psikologis bisa diterapkan di sekolah inklusif,” ujarnya.

Menurut Eka, peran guru tidak hanya mendampingi siswa di lingkungan sekolah, namun juga membangun komunikasi yang baik dengan orang tua agar proses pendampingan dapat berjalan secara berkelanjutan di rumah.

“Kalau sudah mampu melakukan pendekatan pada siswa nya, guru juga harus berkomunikasi terus dengan orang tua di rumah, agar mereka mendapatkan bimbingan khusus dalam menangani setiap perilaku anak-anak istimewa ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Singkawang saat ini telah menyiapkan 10 sekolah inklusif mulai dari tingkat SD hingga SMP sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus.

“Peran Pemkot sangat luar biasa dalam mendukung pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Saat ini sekolah inklusif itu ada di SDN 10 Singkawang, SDN 27, SDN 42, SDN 64 dan SDN 87 Singkawang. Kalau tingkat SMP nya ada di SMPN 4, SMPN 5, SMPN 6, SMPN 8 dan SMPN 11,” terangnya.

Sementara itu, EV Lidanial menyebut penanganan anak istimewa perlu diawali dengan pemahaman guru terhadap faktor penyebab munculnya perilaku tertentu pada anak.

“Kita harus faham dulu seperti apa masalah anak ini, kita cari tau penyebab masalah itu barulah bisa dibuatkan langkah pencegahannya. Misalkan ada anak yang tidak bisa mendengarkan suara bising, kalau mendengar suara bising, maka ia akan tantrum, untuk itu kita jadi tau bagaimana menempatkan dia di tempat yang jauh dari kemungkinan itu,” jelasnya.

Ia juga menyarankan agar setiap sekolah memiliki minimal satu terapis profesional untuk mendukung terciptanya pendidikan inklusif yang ideal dan merata di Kota Singkawang.

“Kalau jumlah terapis yang ideal itu adalah minimal di satu sekolah ada satu terapis yang ahli, mereka ditempatkan oleh Pemkot di seluruh sekolah yang ada di Singkawang,” ujarnya. (Gun)

Humas Singkawang