Bagikan

Singkawang, MC – Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Singkawang telah meluncurkan inovasi-inovasi baru untuk memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat khususnya dalam percepatan pelayanan pembuatan paspor. 

“Inovasi-inovasi yang dimaksud, antaralain, pertama, inovasi pemberian paspor gratis satu hari jadi bagi pemohon paspor karena pemeriksaan berkas lebih dari dua menit (More Than Two Minutes/MT2M,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Singkawang, Tessar disela-sela kegiatan inovasi pemberian paspor melalui pagelaran Tidayu dan NKRI (BETI) di halaman Kantor Imigrasi Singkawang, Rabu (15/7/2020).

Dua, inovasi pemberian kompensasi biaya transportasi lokal bagi pemohon paspor yang tidak dilayani lebih dari dua jam pada tahap pemeriksaan berkas atau tahap foto wawancara. 

Tiga, inovasi Pos Lintas Batas (PLB) atau surat perjalanan lintas batas adventure (PLB Adventure). Empat, inovasi pemberian (penyerahan) paspor dengan tarian Tidayu dan tarian NKRI (BETI). 

Menurutnya, proses pelayanan keimigrasian di Kantor Imigrasi Singkawang yang dikemas dengan mengangkat budaya lokal tarian Tidayu serta NKRI, tentunya menggambarkan keberadaaan masyarakat Kota Singkawang yang didominasitiga etnis/suku tersebut. 

“Terlebih tiga etnis ini hidup saling berdampingan, rukun serta damai dengan semua etnis/suku yang lainnya,” ujarnya. 

Sehingga, tidak salah dan memang sebuah fakta karena Singkawang merupakan kota yang multikultural dan heterogen dapat mewujudkan semangat persatuan serta pluralisme dalam bingkai NKRI dengan mewujudkan kehidupan yang rukun serta damai dan akhirnya diganjar penghargaan kota paling toleran se Indonesia oleh SETARA Institute mengalahkan kota-kota lain pada tahun 2018.

“Dengan semangat toleransi yang memang dimiliki oleh Kota Singkawang, maka Kantor Imigrasi Singkawang merasa perlu menjadi pilar pemersatu sesuai fungsi yang dimiliki dan akhirnya kita mendorong sebuah inovasi BETI yang mengkolaborasikan semangat persatuan dalam kebhinekaan dengan pelayanan Keimigrasian,” ungkapnya.

Menurutnya pula, inovasi BETI adalah merupakan gelaran budaya yang merepresentasikan kearifan lokal dengan semangat toleransi melalui tarian Tidayu dan NKRI yang diakhiri sebuah atraksi barongsai dalam skema pemberian/penyerahan paspor.  

“Dimana barongsai bertugas mengambil paspor yang telah selesai dari petugas kemudian mencari pemegang paspor tersebut untuk diberikan melalui mulut barongsai,” jelasnya.

Perlu diketahui, katanya, seluruh kegiatan inovasi BETI yang dilaksanakan sudah mengedepankan protokol kesehatan dimasa pandemi Covid-19. 

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie memberikan apresiasi kepada Kantor Imigrasi Singkawang atas inovasi-inovasi yang dibuat dalam rangka percepatan pembuatan paspor. 

“Inovasi baru yang dibuat ini sangat luar biasa,” katanya. 

Namun, yang paling bagus lagi yaitu penyerahan paspor melalui pagelaran seni dan budaya. Diketahui, Indonesia ini terdiri dari bermacam-macam suku dan budaya. 

Seperti di Kota Singkawang terdapat 17 paguyuban seni budaya. Melalui budaya, katanya, tentu akan mempererat persatuan dan kesatuan yang ada di Kota Singkawang.  

“Sebagai bukti, bahwa Kota Singkawang sudah pernah mendapatkan predikat sebagai kota yang tertoleran di Indonesia. Sehingga, dengan adanya acara seperti ini tentu bisa membuat kita untuk mempertahankan predikat yang sudah pernah kita raih,” ujarnya. 

Dia berharap, apa yang dilakukan Kantor Imigrasi Singkawang bisa menjadi panutan bagi instansi-instansi lainnya di Kota Singkawang. 

“Kita di Pemerintahan terutama di OPD-OPD juga akan menciptakan inovasi-inovasi sesuai dengan keadaan kantor dinasnya masing-masing. Jelas harus ada inovasi, karena inovasi juga merupakan instruksi dari bapak Presiden RI bahwa setiap daerah diharapkan bisa berinovasi untuk mencapai kemajuan daerah,” ungkapnya. 

Sehingga, Indonesia secara keseluruhan bisa bersaing dengan negara-negara besar lainnya. “Mungkin hal seperti ini sudah dilakukan Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Singkawang,” jelasnya.