Bagikan

Singkawang, MC – Puncak perayaan Cap Go Meh setiap tahunnya dirayakan dengan arak-arakan naga dan barongsai, serta atraksi ratusan tatung. Segala kalangan dan usia dihibur dengan beberapa macam atraksti tatung.

Perayaan ini menjadi salah satu daya tarik wisata kota Singkawang yang mendatangkan banyak wisatawan domestik dan mancanegara. Bahkan sudah menjadi 100 Calender Of Even (CeO) Kementerian Pariwisata RI.

Namun, Tahun ini perayaan Cap Go Meh di kota Singkawang terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada lautan manusia, tidak ada lagi arakan naga dan tatung, tidak ada bunyi-bunyian yang memecah keramaian kota. Lantaran Pandemi COVID-19, ritual yang biasanya disertai bunyi-bunyian serta pawai keliling kota kali ini ditiadakan.

Bahkan, Wali Kota Singkawang bersama Kapolres, Dandim 1202, Kepala Kantor Kemenag RI, Kepala Dinas Parpor, Ketua Panitia Imlek dan CGM serta delapan Majelis Keagamaan Kota Singkawang telah menandatangani kesepakatan bersama, yang intinya pada tahun ini tidak dilaksanakan Festival Cap Go Meh dan kegiatan yang mengundang keramaian.

Meski ditiadakan, ritual keagamaan tetap diperbolehkan untuk dilaksanakan di vihara, kelenteng, dan altar masing-masing umat dan rohaniawan. Kegiatan ritual ini juga diharapkan mematuhi protokol kesehatan.

Salah satu tatung, Hengky melaksanakan ritual keagamaan di Kuil Dewa Raja Baru di Sijangkung, Singkawang Selatan, Kamis (25/2/2021). Ia mengatakan arak-arakan tatung kota Singkawang tahun ini tidak laksanakan.

“Ada info dari Pemerintah dan Majelis, karena pandemi, saya tidak keliling kota. Saya hanya berdoa saja di pekong. Saya rasa tatung lainnya juga sama. Mungkin tahun depan sudah ada lagi (Cap Go Meh),” ujarnya.

Selain rohaniawan, masyarakat kota Singkawang, khususnya suku Tionghoa dan beragama buddha, taoisme dan kong hu cu, diimbau untuk berdoa di rumah masing-masing. Apabila masyarakat tetap ingin melaksanakan doa di tempat ibadah masing-masing, maka protokol kesehatan dan penerapan 5M tetap dilakukan.

Sementara itu, Pengurus Vihara Nan Hai Kwan Im Sakkok, Abui mengatakan kunjungan umat-umat untuk berdoa di Vihara menyambut Imlek dan Cap Go Meh tahun ini sangat sedikit. Di vihara ini terdapat sebuah tempat dimana umat yang berkunjung bisa menggantungkan nama dan harapannya.

“Umat yang datang berdoa menuliskan nama dan harapan mereka di secarik kertas. Tidak sedikit diantara mereka yang mendoakan kesehatan keluarga dan berharap pandemi segera berlalu,” kata Abui.

“Yang namanya hari raya itu tidak akan terasa kalau tidak ada kumpul keluarga. Tapi karena sedang pandemi, ya semua niatan ditahan dulu. Semoga tahun mendatang bisa ketemu ramai-ramai lagi,” tambahnya.

Meski Cap Go Meh ditiadakan, namun tidak menghilangkan rasa toleransi yang ada di kota Singkawang. Warga Singkawang yang memiliki keluarga di luar kota ataupun luar pulau tidak dapat berkumpul seperti sedia kala.

Beruntungnya di masa Pandemi, fitur gawai semakin canggih dan dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Untuk menghilangkan kerinduan bersama keluarga dan mendekatkan jarak, mereka yang tidak bisa bertemu tatap muka, dapat berkomunikasi secara daring.

“Gawai sangat dirasakan manfaatnya di masa pandemi sekarang ini. Komunikasi antar keluarga yang berjauhan dapat dilakukan dengan baik,” katanya. *MC/Td